Sabtu, 01 Agustus 2015

Dalam Diam

Dalam Diam, Aku Hidup
Hidup untuk melihat kepasrahanku sendiri dan menerima segala liku kehidupan yang telah dilewati, begitu sedih kelihatannya seakan aku selalu dirundung berbagai cobaan hidup. Tapi memang begitu adanya. Sejak kecil aku merasa alam pikirku telah dewasa pada waktunya, dewasa untuk memahami hidup bahwa ternyata hidup ini tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Saat umur 5 tahun akupun mengerti didalam hidup ini bahwa orang tua akan selalu mengorbankan apapun demi anaknya begitu pula ayah dan ibuku. Mereka rela untuk makan hanya dengan garam dan kecap mengalah pada anaknya agar dapat makan lebih bergizi yakni dengan telur walaupun hanya didadar, setidaknya memiliki protein yang cukup. Itulah hidup :D

Dalam Diam, Aku Menangis
Emosi, Kesedihan, Kemarahan selalu aku tumpahkan dalam tangisan dalam kesunyian suasana. Aku menangis dibalik bantal di keheningan malam. Kadang tangisan yang bahkan aku tak bisa mengontrolnya hingga masuk dalam mimpi. Menangisi hidup bagiku layaknya ombak yang menghampiri bibir pantai. Selalu ada. Kadangkala menjadi besar dan tak terkontrol hingga merusak. Aku ingat ketika kondisi keluargaku bisa dikatakan sedang diujung tanduk. Saat diambang batas perpisahan orang tuaku. Ya aku menangis ditengah kesunyian malam, berada dititik terendah hidupku, berharap aku bisa kuat menceritakan ke orang lain untuk sekedar menumpahkan kesedihan walau lebih banyak aku diam menelannya sendiri dan menangis tanpa diketahui siapapun untuk menunjukan yaa aku kuat dan aku tegar. Menangis dalam diam. Sakit.

Dalam Diam, Aku Iri
Setelah semua yang kualami dalam rangkaian 20 tahun umurku, jujur aku iri. Iri terhadap kehidupan orang lain, kehidupan temanku. Aku merasa mereka hidup tanpa beban. Tersenyum, tertawa tanpa ada satupun yang membayangi. Beda dengan hidupku yang begitu durja. Setidaknya dimataku. Satu hal yang paling aku irikan pada orang lain. Entah mengapa aku melihat kehidupan salah seorang temanku, sahabatku. Melihatnya dengan keluarganya begitu harmonis, begitu menyenangkan, yang membuatnya tidak bisa jauh dari keluarganya. Memiliki waktu bersama tanpa dibayangi ketakutan akan masalah kehidupan lain. Tidak denganku keluargaku pernah sampai pada batas kehancuran, setiap hari selalu berbicara dengan nada tinggi satu sama lain, bentakan, teriakan, kerusakan barang dirumah menjadi sesuatu hal yang seakan biasa. Walaupun masa itu sudah terlewati akan tetapi banyak hal yang telah berubah. Tidak pernah kami memiliki waktu yang benar-benar bersama tanpa memikirkan permasalahan hidup lain yang menjerat. Kami pun sudah jarang untuk santai atau sekedar bersenda gurau dan bermanja seperti yang sahabatku lakukan dengan keluarganya. Kemudian kadang aku melihat ketika seorang teman mendapatkan cobaan, aku merasa yang dihadapinya itu tidak berat dibanding diriku, tapi entah kenapa begitu banyak orang yang datang menghampirinya, memberikan semangat. Kenapa ya aku tidak merasakan hal itu?. Atau sebenarnya ada namun aku yang terlalu cuek. Entahlah

Dalam Diam, Aku Bingung
Berawal dari rasa iri akupun bingung memaknai hidupku, apakah maksud Tuhan memberikan ku dan keluargaku berbagai cobaan hidup yang bertubi-tubi? Apa jalan yang Tuhan siapkan untukku didepan sana?. Hinanya adalah ketika aku mulai berpikir bahwa Tuhan tidak berlaku adil bagiku. Astagfirulah. Ketika aku sudah mulai capai dan bingung mencari jawaban akan pertanyaan itu pikiran itu selalu muncul. Nanti. Waktu yang akan menjawab. Mungkin.

Dalam Diam, Aku Berdoa
Akhirnya aku sadar. Bahwa hidup dalam kepasrahan mengajarkanku untuk selalu sabar dan ikhlas dalam menghadapi berbagai hal

Akhirnya aku sadar, Bahwa menangis dalam diam mengajarkanku untuk berusaha kuat dan tegar dalam menjalani setiap liku kehidupan

Akhirnya aku sadar, Bahwa hidup setiap manusia tidaklah sama, layaknya roda yang selalu berputar dan iri bukan dibentuk untuk menyaingi orang lain tapi bagaimana iri yang ada dalam diri memacu untuk dapat menjalani dan menyikapi berbagai hal dengan lebih baik lagi

Akhirnya aku sadar, Bahwa bingung mengajarkanku untuk dekat dengan Sang Pencipta, bertanya secara langsung akan kegundahan hati dalam setiap permasalahan. Masalah keadilan biarkan itu menjadi misteri Illahi karena Dia-lah Sang Maha Adil


Aku pun berdoa agar Tuhan tetap menjaga sabar dan ikhlasku, kuat dan tegarku, semangat untuk menjalani dan menyikapi segala hal dengan baik, kedekatan dengan Illahi selalu terpatri kuat dalam diri dalam kondisi apapun yang akan kulalui kedepannya.

Sabtu, 11 Juli 2015

Terima Kasih Telah Menunggu Sampai Aku Kembali Lagi

Entah mengapa tiba-tiba aku teringat akan blog miliku, ya... ini blog miliku. Entah berapa lama aku tidak membukanya, mungkin kalau ini berwujud benda mungkin sudah usang dan debunya luar biasa menumpuk. Terakhir kali aku buka hmmm mungkin SMA kali ya, karena blog ini dibuat pun dengan tujuan untuk memenuhi tugas saat SMA, lihat saja postingan sebelum ini tentang ilmu-ilmu psikologi tema yang kupilih untuk memenuhi tugas masa SMA.

Sepertinya laman ini mau aku alih fungsikan, yaa untuk mengisi kekosongan waktu ku, mungkin aku bisa ketik-ketik berbagai hal mulai dari yang paling penting sampai yang hanya iseng iseng celotehan ku saja. Baik tentang diriku ataupun keadaan sekitarku. Saat keadaan senang ataupun keadaan yang menyedihkan. Tak berharap untuk dibaca siapapun. Sungguh! Bukan karena apa-apa tapi memang tipeku bukan seperti itu.

Kenapa ya baru mulai ketik-ketik sekarang, kenapa gak dari dulu? hahaha akupun juga bingung menjawab pertanyaan itu. Mungkin saat itu aku terlalu malas untuk sekedar mengetik atau saat itu aku pikir yaa ini mungkin tidak terlalu penting bagiku. Lantas sekarang tidak malas hmmm atau sekarang sudah merasa blog penting? Yaaa gak gitu juga sih. Mungkin ini akan menjadi tempatku berkontemplasi, memikirkan berbagai hal, segalanya, setiap jengka yang ada didiriku wkwk lebay. Yaa tapi kira-kira itulah yang bisa aku gambarkan.

Terima Kasih telah menungguku untuk kembali :)

Rabu, 30 Maret 2011

Mengenal Persepsi, ilusi dan halusinasi

Kita tentu sering sekali mendengar istilah persepsi, ilusi, maupun halusinasi. Pada ilmu kejiwaan, kata-kata tersebut sangat akrab bagi mereka yang berkecimpung di dalamnya. Tapi apa sebenarnya persepsi, ilusi, dan halusinasi ditinjau dari sisi kejiwaan ?
Persepsi adalah hasil interaksi antara dua faktor, yaitu faktor rangsangan sensorik yang tertuju kepada individu atau seseorang dan faktor pengaruh yang mengatur atau mengolah rangsangan itu secara intra-psikis. faktor-faktor pengaruh itu dapat bersifat biologis, sosial, dan psikologis. Karena adanya proses pengaruh-mempengaruhi antara kedua faktor tadi, di mana di dalamnya bergabung pula proses asosiasi, maka terjadilah suatu hasil interaksi tertentu yang bersifat "gambaran psikis".
Ilusi adalah suatu persepsi panca indera yang disebabkan adanya rangsangan panca indera yang ditafsirkan secara salah. Dengan kata lain, ilusi adalah interpretasi yang salah dari suatu rangsangan pada panca indera. Sebagai contoh, seorang penderita dengan perasaan yang bersalah, dapat meng-interpretasikan suara gemerisik daun-daun sebagai suara yang mendekatinya. Ilusi sering terjadi pada saat terjadinya ketakutan yang luar biasa pada penderita atau karena intoksikasi, baik yang disebabkan oleh racun, infeksi, maupun pemakaian narkotika dan zat adiktif.
Ilusi terjadi dalam bermacam-macam bentuk, yaitu ilusi visual (penglihatan), akustik (pendengaran), olfaktorik (pembauan), gustatorik (pengecapan), dan ilusi taktil (perabaan).
Halusinasi adalah persepsi panca indera yang terjadi tanpa adanya rangsangan pada reseptor-reseptor panca indera. Dengan kata lain, halusinasi adalah persepsi tanpa obyek.
Halusinasi merupakan suatu gejala penyakit kejiwaan yang gawat (serius). Individu mendengar suara tanpa adanya rangsangan akustik. Individu melihat sesuatu tanpa adanya rangsangan visual, membau sesuatu tanpa adanya rangsangan dari indera penciuman.
Halusinasi sering dijumpai pada penderita Schizophrenia dan pencandu narkoba. Halusinasi juga dapat terjadi pada orang normal, yaitu halusinasi yang terjadi pada saat pergantian antara waktu tidur dan waktu bangun. Hal ini disebut halusinasi hypnagogik.
Bermacam-macan bentuk halusinasi
Halusinasi akustik (pendengaran)
Halusinasi ini sering berbentuk :
  • Akoasma, yaitu suara-suara yang kacau balau yang tidak dapat dibedakan secara tegas
  • Phonema, yaitu suara-suara yang berbentuk suara jelas seperti yang berasal dari manusia, sehingga penderita mendengar kata-kata atau kalimat kalimat tertentu
Halusinasi visual (penglihatan)
Penderita melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Halusinasi visual sering menimbulkan ketakutan yang hebat pada penderita.
Halusinasi olfaktorik (pembauan)
Penderita membau sesuatu yang tidak dia sukai. Halusinasi ini merupakan gambaran dari perasaan bersalah penderitanya.
Halusinasi gustatorik (pengecap)
Halusinasi gustatorik murni jarang dijumpai, tetapi sering terjadi bersama-sama dengan halusinasi olfaktorik.
Halusinasi taktil (perabaan)
Halusinasi ini sering dijumpai pada pencandu narkotika dan obat terlarang.
Halusinasi haptik
Halusinasi ini merupakan suatu persepsi, di mana seolah-olah tubuh penderita bersentuhan secara fisik dengan manusia lain atau benda lain. Seringkali halusinasi haptik ini bercorak seksual, dan sangat sering dijumpai pada pencandu narkoba.
Halusinasi kinestetik
Penderita merasa bahwa anggota tubuhnya terlepas dari tubuhnya, mengalami perubahan bentuk, dan bergerak sendiri. Hal ini sering terjadi pada penderita Schizophrenia dan pencandu narkoba.
Halusinasi autoskopi
Penderita seolah-olah melihat dirinya sendiri berdiri di hadapannya.
Penderita Schizophrenia sangat perlu dikasihani karena penderitaan yang dialaminya. Tetapi mengapa banyak orang memilih untuk mengubah hidupnya yang indah dan berharga dengan memakai narkoba dan mengalami berbagai macam gangguan kejiwaan yang serius ? Tak seorangpun yang tahu ...


sumber : www.angelfire.com